Showing posts with label Tekologi Antariksa. Show all posts
Showing posts with label Tekologi Antariksa. Show all posts

Monday, 7 March 2016

Titik Pengamatan LAPAN dan NASA Tergusur Festival Gerhana

Lokasi pengamatan korona para peneliti Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) dan The National Aeronautics and Space Administration (NASA) di dermaga Maba "tergusur" oleh Festival Gerhana Matahari Total (GMT) 2016.

Pelajar mengamati matahari dengan teropong di Surabaya, Jawa Timur, Senin (7/3). (ANTARA/Didik Suhartono)
Pelajar mengamati matahari dengan teropong di Surabaya, Jawa Timur, Senin (7/3). (ANTARA/Didik Suhartono)

"Aktivitas kami hari ini mempersiapkan titik pengamatan gerhana. Sebelumnya memang kami rencanakan di salah satu dermaga Maba yang sudah tidak terpakai lagi, tapi ternyata informasi terakhir mau dipakai masyarakat untuk menggelar festival gerhana," kata peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN Emanuel Sungging saat ditemui di Alun-alun Kota Maba, Maluku Utara, Senin.

Akhirnya, ia mengatakan diputuskan aktivitas pengamatan GMT oleh LAPAN dan NASA dipindah ke Alun-alun Jiko Mobon.

"Ya sudah tidak apa-apa kalau masyarakat memang mau menggunakan lokasi itu. Sebelumnya memang kami tidak dapat informasi bahwa akan ada festival gerhana di lokasi itu," ujar Sungging.


Menurut dia, kelebihan lokasi pengamatan baru tersebut berada di tengah kota sehingga tidak sulit membawa semua peralatan untuk pengamatan. Namun, yang menjadi kekhawatiran adalah masyarakat yang berkerumun menyaksikan kegiatan pengamatan.

"Semoga saja tidak mengganggu (jalannya pengamatan). Nanti akan ada dari tim kami akan mencoba mengalihkan perhatian masyarakat untuk melihat gerhananya bukan aktivitas penelitiannya," ujar dia.

Dari segi kebutuhan penelitian, menurut Sungging, lokasi yang baru yang berada alun-alun tersebut cukup baik karena matahari dapat teramati 45 derajat. "Itu sudah cukup tinggi".

Berdasarkan pantauan Antara, titik pengamatan GMT LAPAN dan NASA di alun-alun Jiko Mobon sangat terbuka dan mudah diakses masyarakat. Lokasi pengamatan seluas sekitar 10x8 meter persegi (m2) hanya diberi batas tali rafia berwarna merah.

Tampak masyarakat Maba, terutama anak-anak begitu antusias melihat persiapan titik pengamatan oleh para peneliti dari badan antariksa Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tersebut hingga berdiri begitu dekat dengan batas tali rafia.

Menurut Sungging, totalitas GMT di Maba diperkirakan terjadi sekitar pukul 09.50 WIT, dan lamanya mencapai tiga menit dan 17 detik. (CNN)

Wednesday, 10 December 2014

25 Tahun Lagi Indonesia Targetkan Punya Bandar Antariksa Sendiri

Indonesia menargetkan memiliki bandar antariksa sendiri dalam 25 tahun ke depan dan berupaya mulai menyusun rencana induk keantariksaan jangka pajang. Berlandaskan mandat Undang-Undang No. 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan,  Undang-Undang ini diharapkan bisa dijadikan landasan dalam penyelenggaraan keantariksaan nasional.

25 Tahun Lagi Indonesia Targetkan Punya Bandar Antariksa Sendiri

Sekretaris Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional Republik Indonesia (Depanri) mulai menentukan arah keantariksaan Indonesia untuk 25 tahun ke depan. Ada beberapa hal yang menjadi target antariksa nasional dalam jangka panjang.


"Dalam 25 tahun ke depan, gambarannya, kita ingin menguasai sains dan antariksa, punya riset Observatorium Nasional, satelit komunikasi, dan bandar antariksa," ujar Sekretaris Depanri sekaligus Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu, 10 Desember 2014.

Bangun Pusat Observatorium Baru di  Nusa Tenggara Timur


Indonesia juga berencana untuk membangun pusat observatorium nasional baru yang dilengkapi dengan fasilitas pengamatan astronomi itu rencananya akan dibangun di lokasi yang cuacanya dominan cerah.

"Direncanakan akan dibangun di Nusa Tenggara Timur karena wilayah tersebut selalu terlihat cerah dan belum banyak polusi cahaya," ungkapnya.

Sedangkan untuk bandar antariksa atau space port, Thomas masih belum menentukan pilihan lokasi pembangunannya. Pasalnya, saat ini ada dua kandidat wilayah yang dirasa baik untuk membangun bandar antariksa tersebut.

"Bandar antariksa direncanakan dibangun di Morotai atau Biak. Meski sulit untuk membangun bandar antariksa dalam 25 tahun tapi sekarang sudah mulai tahapannya, dari daerah (yang akan dibangun bandar antariksa) dulu," paparnya. (VivaNews)

Popular Posts